Daftar Bantuan Bulan JANUARI 2014 | 1.Hamba Alloh Karangansem Solo Rp. 400.000 2. Bp. Bp. Handoyo Palembang Rp. 1.500.000 4. PT kusuma Hadi Rp 250.000,00 5. Bp. Utomo Perum UNS Jati Rp. 100.000 6. Bp. Junaidi Jongkang Rp. 500.000 7. Bp. Joko Dompon Rp. 300.000 8. Ibu Krisnawati Rp. 1.000.000 9. Kel Reminanto Dukuh Jati Rp. 784.500 11. Rizka Audi Fahmi Rp. 100.000 12. Ibu Suradi Yogyakarta Rp. 1.000.000 13. Ibu Eko Budi sarwani SMP 5 Karanganyar Rp. 100.000 14. LAZIS PDM Karanganyar Rp. 10.000.000 Jumlah Bantuan Bulan Januari 2014 Rp 16.034.500,00

Selasa, 09 Oktober 2012

Tiga Puluh Tahun Subandi Setia Membuat Keris


JATEN - Di tengah modernisasi jaman, KRT Subandi Suponingrat tetap mempertahankan pekerjaannya sebagai seorang empu keris. Pria yang akrab disapa Pak Bandi ini tetap setia membuat keris sebagai sumber mencari nafkah selama 30 tahun.
Dari kejauhan, rumahnya yang terletak di Banaran RT 4 RW 7 Ngringo, Palur, Karanganyar sudah terdengar suara besi yang dipukul. Suara itu ternyata bersumber dari para pekerja yang sedang menempa besi panas yang akan dibuat jadi keris. “Ya di sinilah rumah yang sekaligus menjadi bengkel membuat keris,” kata pria berkacamata ini, Senin (8/10/2012).
Ada tiga orang pekerja yang terlihat sibuk menempa besi panas yang menyala. Satu orang pekerja lainnya sibuk menggerinda keris yang hampir jadi. Ruang pembuatan keris tersebut tak begitu luas hanya sekitar 4 x 4 meter.
“Saya bukan keturunan empu. Hanya belajar membuat keris sejak tahun 1970-an. Saya tetap setia membuat keris sampai sekarang, mungkin sudah sekitar 30-an tahun,” kata pria kelahiran 13 Juni 1957 ini. Ia membuat keris bukan tergantung pesanan, melainkan sesuai keinginan hatinya saat itu.
Subandi mengaku bisa membuat berbagai macam model keris. Namun dari sekian banyak model, yang paling diminati adalah dua jenis keris lurus yakni Sardulo Mangsah dan Sinom. Dua keris ini yang paling banyak dicari para kolektor. “Setiap saya membuat, pasti ada yang selalu membelinya. Padahal tak pernah promosi, hanya dipajang di rumah,” katanya.
Proses rumit, bahan pilihan, hingga bentuk yang tak sembarangan membuat keris buatan Subandi dibandrol cukup mahal. Harga termurah sebuah keris hasil karyanya adalah Rp 3 juta. Sedang harga tertinggi mencapai Rp 20 juta bahkan lebih. Murah dan mahalnya keris tergantung tingkat kerumitan dan bahan. “Kan ada keris yang terbuat dari bahan batu meteor. Kalau yang seperti ini jelas mahal,” katanya.

Hujan Turun, Ratusan Hektar Sawah 'Selamat'

KOTA - Hujan yang turun di Karanganyar dua hari terakhir mampu menyelamatkan ratusan hektare lahan pertanian yang diprediksi puso atau gagal panen. Bahkan, target surplus beras sebanyak 110 ribu ton hingga akhir tahun bakal tercapai.
Demikian dikatakan Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Karanganyar, Siti Maesyaroch kepada wartawan, Senin (8/10/2012). Dia mengaku selama ini sudah berusaha maksimal untuk mengantisipasi gagal panen seperti mengajukan hujan buatan kepada pemerintah pusat sampai sosialisasi pola tanam.  "Alhamdulilah sudah mulai hujan, jadi yang semula terancam gagal panen, mudah-mudahan bisa panen dalam waktu dekat," ujarnya.
Siti menjelaskan sudah menerima pemberitahuan dari Badan Meteorogi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kalau pertengahan Oktober mulai diguyur hujan. Hal ini mampu membuat lahan pertanian kembali menghijau. "Kemarau panjang kemarin memang membuat petani ketar-ketir. Permintaan hujan buatan juga sering kami sampaikan dalam setiap rapat koordinasi di provinsi. Tapi alhamdulilah malah sudah hujan," jelasnya.

Mulai Turun Hujan, Jalan di Sekitar Proyek Fly Over Palur Rawan Kecelakaan


JATEN – Jl Solo-Tawangmangu tepatnya di sekitar lokasi proyek fly over Palur, Jaten, Karanganyar, rawan kecelakaan menyusul mulai turunnya hujan beberapa hari terakhir.
Tanah galian proyek terbawa air hujan dan menyelimuti sebagian badan jalan. Selain itu terdapat juga genangan air hujan di pinggir jalan. Hingga tengah hari genangan air tidak juga hilang. Penyebabnya tidak adanya lubang buangan ke gorong-gorong. Pengguna jalan harus ekstra hati-hati saat melintas di dekat lokasi proyek khususnya para pengendara motor.
Salah seorang warga Desa Dagen, Jaten, Harto Wiyono, menuturkan air hujan menggenang di pinggir jalan lantaran lubang buangan ke gorong-gorong tidak ada. “Dulu memang ada tapi kemudian mampat, sehingga ditutup sekalian oleh warga,” akunya.
Harto mengakui badan Jl Solo-Tawangmangu dekat lokasi proyek fly over menjadi licin semenjak hujan mulai mengguyur. Sebab ada sebagian tanah galian yang terbawa air hujan dan menyelimuti badan jalan. Namun sudah ada tim pembersih tanah dari pelaksana proyek fly over. “Sejauh ini belum ada korban karena jalan licin. Sebab dalam sehari bisa dua hingga empat kali dibersihkan,” imbuhnya.
Camat Jaten, Bachtiyar Syarif, menjelaskan fly over Palur merupakan proyek multiyears. Artinya pengerjaan proyek bakal berlangsung selama beberapa tahun anggaran. “Informasi yang saya terima proyek ini akan dikerjakan hingga tahun depan, bisa juga sampai 2014,” terangnya. Disinggung mengenai pembebasan lahan di pinggir Jl Solo-Tawangmangu, Bachtiyar mengatakan belum masuk anggaran tahun ini. Program yang bakal menyedot anggaran daerah tidak sedikit itu diperkirakan baru masuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Karanganyar 2013.
Sedangkan Wakil Bupati Karanganyar, Paryono, menyatakan sedang mengupayakan sharing dana pembebasan lahan dari Provinsi Jawa Tengah. Alasannya, keterbatasan APBD Karanganyar yang sebagian besar tersedot untuk belanja PNS.

Perum Perumnas Akan Lanjutkan Pembangunan GLA


GONDANGREJO – Perum Perumnas Solo bakal melanjutkan pembangunan proyek perumahan Griya Lawu Asri (GLA) di Desa Jeruk Sawit, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar pada 2013 mendatang. Pembangunan proyek tersebut mandek sehingga ratusan unit rumah mangkrak dengan kondisi memprihatinkan.
Dari pantauan, hampir sebagian kondisi rumah di perumahan GLA rusak parah. Atap rumah bocor sementara pintu dan jendela rumah rusak. Karena tak berpenghuni, rumput liar dengan ketinggian sekitar 1,5-dua meter tumbuh lebat mengelilingi setiap unit rumah.
Manager Perum Perumnas Solo, Tito Eddy Heriyanto, mengatakan pihaknya telah melakukan pembahasan dengan para stakeholder terkait kelanjutan pembangunan proyek perumahan tersebut. Hasilnya, pihaknya berkomitmen melanjutkan pembangunan proyek perumahan itu pada 2013.
“Sekarang kami sedang menunggu keputusan dari pimpinan Perum Perumnas di Jakarta. Surat mengenai pembahasan kelanjutan pembangunan proyek perumahan GLA dilayangkan pada awal Agustus lalu,” katanya saat dihubungi Senin (8/10/2012).
Selama ini, Perum Perumnas telah membangun sebanyak 757 unit rumah yang tersebar di lima sektor. Setiap unit terdiri dari sekitar 100 unit rumah. Pembeli yang telah akad kredit rumah berjumlah 265 unit rumah. Sementara 492 unit rumah lainnya belum ada pembelinya. Pihaknya akan membangun sekitar 613 unit rumah termasuk melakukan renovasi ratusan unit rumah yang mangkrak.
“Setelah ada keputusan dari Jakarta, kami akan menginventarisir warga yang sudah melakukan akad kredit. Renovasi tetap dilakukan karena kondisi rumah tak layak,” ujarnya.
Pembeli yang sudah akad kredit rumah enggan menempati perumahan tersebut pascakasus korupsi yang melibatkan suami Bupati Karanganyar Rina Iriani SR, Tony Haryono. Pembangunan perumahan itu pun terhenti lantaran kasus tersebut.
Sementara seorang penghuni perumahan GLA, Roberth, mengungkapkan sebenarnya tidak sedikit warga yang ingin membeli rumah di perumahan tersebut. Namun, mereka mengurungkan niatnya setelah mencuatnya kasus korupsi tersebut.
Para penghuni yang berjumlah sekitar 24 keluarga mayoritas berada di sektor pertama karena berdekatan langsung dengan jalan raya. Sementara penghuni yang berada di sektor dua-empat hanya beberapa keluarga.
“Saat awal pembangunan perumahan banyak orang yang berniat membeli rumah. Pasokan air bersih dan aliran listrik belum ada padahal kebutuhan hidup utama,” tambahnya ketika ditemui pekan lalu.